Dibalik Segalanya

 


          Kita hidup dalam  negara yang menjunjung tinggi demokrasi. Kata-kata peninggi negeri berbicara bahwa rakyat adalah seseorang yang ambil alih dalam  mengatur bangsa. Kemerdekaan saja diucapkan dengan  lantang  demi semua rakyat yang merasa tersiksa telah  terlepas dari penyiksaan penjajah negara. Sampai-sampai sumpah disampaikan dihadapan mereka sang penjajah demi mengakui bahwa negeri ini milik kita, milik Indonesia.

            Namun itu hanya dulu. Tak cukup dari luar yang ingin membinasakan tapi di dalam juga sedang melakukan pemberontakan. Banyak orang yang menginginkan kekuasaan demi kepentingan mereka sendiri. Hidup mereka seperti binatang yang ingin pengakuan dari luar namun tak punya aksi dari dalam. Mereka hamburkan uang diawal pemilihan lalu memberikan kepedihan setelah dipiliih.

            Teringat kata dari seorang pemuda jaman dulu yang memerdekakan negeri ini.Siapa lagi kalau bukan presiden pertama kita, Ir. Soekarno. Beliau pernah bilang “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Mungkin beliau benar dan telah memprediksi sebelumnya, bahwa akan ada seorang penjabat yang menginginkan nafsu daripada kebahagiaan rakyat mereka sendiri.

            Tak cukup dalam segi keserakahan, mereka juga menginginkan bahwa negara ini harus berpihak kepada mereka sendiri. Mereka melakukan perubahan pada peraturan negara. Dari tahun lalu RUU KUHP dan sekarang RUU cipta kerja. Perubahan ini hanya ingin menguntungkan satu pihak namun menyakiti pihak lainnya. Banyak orang-orang termasuk mahasiswa mengeborkan suaranya dijalanan. Semua demi semata-mata demi rakyat dinegara ini sendiri. Mereka yang berjuang tak hanya dalam dunia nyata namun juga dunia sosiolita. Hak-hak dari rakyat selalu mereka ucap demi penjabat mendengarkan kata mereka. Namun, mereka yang diatas jabatan hanya tutup telinga dan menghalalkan segalacara untuk menetapkan aturan yang telah mereka buat sebelumnya.

            Kita adalah rakyat yang sedang dalam tanda tanya. Apakah diri kita masih dalam ambil alih mengatur bangsa, ataukah seorang budak seperti penjajahan di masanya. Suara dan raga selalu bersanding dalam menunjukkan bahwa kesalahan harus dibenarkan adanya. Kita memeperjuangkan hak asasi manusia didalam negara ini demi semua yang berada disini.

            Namun tak semua penjabar berpikiran yang sama. Tatkala ada seorang peninggi bangsa yang memang seperti malaikat dihadapan rakyatnya. Mereka tak pernah sekalipun ingin rakyat ini tertindas oleh orang-orang yang inginkan kekerasan. Mereka adalah pihak kita yang seharusnya beginilah pemimpin negara bahkan dunia. Sebab semua ini dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.


0 komentar:

Posting Komentar